Mungkin beberapa dari kalian, merasa asing bila mendengar kata “tustel” dan “afdruk”, karena dua kata ini sudah mulai jarang digunakan setelah maraknya kamera digital. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “tustel” memiliki arti alat potret, atau kamera. Sedangkan “afdruk” memiliki arti hasil mencetak film. Kata tustel dan afdruk ini sering sekali diucapkan oleh bokap dan nyokap gue untuk menyebut kamera mereka dan mencetak hasil fotonya. Di zaman gue masih TK, tahun 90an akhir, mungkin itu kali pertama gue memegang sebuah kamera film. Dulu bokap gue memiliki sebuah kamera pocket merk Fuji, disaat itulah gue pertama kali mencoba jepret – jepret foto menggunakan kamera film. Dahulu pun gue sering menemani nyokap gue untuk pergi ke tempat cuci & cetak film. Tapi disaat itu gua tidak begitu tertarik dengan kamera. Sampai pada akhirnya gua berkecimpung lagi dengan urusan kamera, di tahun 2015 gue dipinjamkan sebuah kamera analog oleh Dimas Rajasa. Kamera itu adalah Yashica FX-D.

Seperti inilah penampakan kamera yang gue coba pakai di saat itu, menggunakan lensa 50mm F1.4. Setelah mendapatkan kamera ini, gue membeli 3 buah roll Fujifilm Superia 200. Tujuan gue mencoba motret menggunakan analog adalah, gue ingin mencoba merasakan, bagaimana rasanya menjadi fotografer di zaman belum ada kamera digital. Dimana kita tidak bisa melihat hasil foto kita sebelum diproses, kalau salah foto tidak bisa dihapus. Satu roll film terbatas hanya sampai 36 frame saja, maka kesabaran kita diuji dalam memilih objek untuk difoto. Mengapa harus sabar? Kamera digital itu, dengan kita membeli 1 buah SD / CF card, kita sudah bisa menghasilkan foto lebih dari 100 frame, lain halnya dengan kamera analog. Karena kita hanya memiliki 36 kesempatan untuk membuat foto, maka alangkah baiknya kita bisa sabar dan bijak dalam memilih apa yang akan kita foto. Kesabaran ini masih berlanjut dalam proses pencucian film. Saat ini memang masih banyak lab yang menawarkan jasa cuci dan scan film, jadi kita bisa menikmati hasil foto analog kita dalam file digital. Lalu, mayoritas lab memakan waktu yang cukup lama untuk mencuci film. Maka dari itu, kesabaran kita diuji sekali lagi.  Tentu kita mendapatkan klise dari film tersebut, untuk sewaktu – waktu bisa di cetak ke kertas foto, atau scan lagi menjadi file digital di waktu yang akan datang. Setelah gue mencoba 2 dari 3 roll film tersebut, alhasil roll film pertama gue GAGAL TOTAL. Semua foto hasilnya antara terlalu overexposed dan underexposed, jadi kalo ngga terlalu terang ya terlalu gelap gitu.

Inilah 2 frame dari roll film kedua gue. Akhirnya fotonya bisa jadi tanpa overexposed ataupun underexposed. Kalau tidak salah foto ini diambil pada saat acara Driftwar tahun 2015, yang menjadikan kali pertama gue menggunakan kamera film di event motorsport. Setelah ini pun gue lupa akan kamera analog ini, yang berakhir dengan gue simpan di lemari gue. Pada akhirnya kamera Yashica itupun gue kembalikan ke pemiliknya.

Tepat tahun lalu yaitu 2017, secara tiba – tiba kamera analog menjadi booming kembali. Waktu itu ada 2 orang temen gue yang lagi getol banget main kamera analog. Dan gue pun dikasih kesempatan buat motret 2-3 frame di film temen gue itu. Setelah dicuci dan scan, gue melihat hasilnya. Gue pun tertarik untuk kembali bermain dengan kamera film. Sebelumnya gue sebutkan bahwa, gue pernah membeli 3 roll film. Dari 3 film tersebut, baru terpakai 2 saja. Gue teringat bahwa masih ada 1 roll Fuji Superia 200 yang nganggur dirumah. Tetiba salah satu temen gue, Bayu Warjiyo bersedia untuk meminjamkan Canon FT QL miliknya dilengkapi dengan lensa 50mm F1.8, yang katanya tidak terpakai juga. Kamera ini full manual tidak ada mode auto ataupun autofocus. Kamera ini sudah dilengkapi dengan lightmeter, yang berfungsi untuk menandakan overexposure / underexposure. Namun yang menjadi masalah adalah, kamera ini memerlukan baterai agar lightmeter nya bisa berfungsi. Jenis baterai yang diperlukan itu sudah sangat jarang beredar di pasaran. Pada akhirnya gue memutuskan untuk cuek aja, motret ga pake bantuan lightmeter apapun, yang artinya hasil foto pada film tersebut cukup gambling.

Sebelumnya gue pesimis untuk motret motorsport dengan kamera film Canon ini. Karena kamera ini full manual. Setelan kamera itu bisa diatur, sedangkan yang menurut gue cukup memberi masalah itu, karena tidak autofocus. Jujur menurut gue tantangannya cukup berat untuk foto benda bergerak dengan manual focus. Selain itu, kamera film itu untuk motret 1 frame, harus di kokang terlebih dahulu, baru kita bisa tekan tombol shutter nya. Dengan cara kerja kamera seperti itu, rasanya tidak mungkin ya motret dengan continuous shot seperti di DSLR. Tapi ya gue pikir, orang jaman dulu pada bisa – bisa aja pake kamera film. Akhirnya gue beranikan untuk gambling di 1 frame dari Fuji Superia tersebut. Setelah gue lihat hasilnya, ternyata tidak se hancur itu hahaha. Yup! Hasil dari taruhan tersebut adalah foto yang ada diatas ini. Gue pun berniat untuk mencoba menggunakan kamera ini di event motorsport.

Ini merupakan event pertama gue mencoba motret action shot dengan Canon FT QL ini. Foto – foto ini menggunakan film Kodak Colorplus 200. Film ini harganya terjangkau, yaitu kisaran 50-60 ribu rupiah. Masing – masing film memiliki karakteristik dan warna nya tersendiri. Kalau menurut gue warna dari film Kodak itu cenderung ke warna kuning atau warm. Karena sebagian besar dari 36 foto yang dihasilkan, lebih banyak ke warna kuning. Menurut gue, Kodak Colorplus 200 ini cocok bagi kalian yang ingin mencoba motret pakai kamera film, tapi tidak rela gagal setelah membeli film mahal – mahal. Ya kurang lebih kalian harus spend uang sebesar 100-120 ribu rupiah untuk membeli film, cuci dan scan hasil fotonya. Disaat itu gue tidak terlalu mementingkan komposisi atau ketajaman dari fokus sebuah foto. Yang terpenting bagi gue disaat itu, semua foto bisa terekspos dengan baik, tanpa perlu menggunakan bantuan lightmeter. Alhamdulillah 36 foto bisa terekspos tanpa terbakar satupun.

Menurut gue hal ini tricky. Setiap film pasti disertai dengan angka 100, 200, 400, 800, 1600 dan seterusnya. Angka tersebut melambangkan ASA dari sebuah film. ASA itu sama dengan ISO pada kamera digital. ASA & ISO yaitu tingkat sensitifitas film/sensor pada cahaya, semakin tinggi angkanya, berarti semakin sensitif terhadap cahaya. Enaknya menggunakan kamera digital, kalian bisa mengatur ISO dari 100, sampai ribuan sesuka hati kalian. Tapi itu tidak berlaku di kamera film. Setiap film memiliki tingkat sensitifitas nya masing masing, contoh Fuji Superia 200 ya kurang lebih sama dengan ISO 200, sedangkan Fuji Superia 800 merupakan film yang berbeda, sama saja seperti kalian menaikan ke ISO 800. Berarti bisa disimpulkan bahwa, sekali kalian masukan 1 roll film pada kamera, maka kalian akan stay di ISO sesuai dengan yang tertera pada filmnya. Jadi kita tidak bisa merubah ISO semau kita. Coba dibayangkan apabila kalian sedang hunting foto di malam hari, namun ASA film yang kalian gunakan itu rendah seperti 100 atau 200. Mungkin juga sebaliknya kalian sedang menggunakan film ASA 1600, tapi sedang hunting foto di siang bolong. Apalagi kalian baru bisa mengganti film nya, apabila sudah selesai memotret 36 frame dari film tersebut. Sebenernya bisa aja sih, namun akan sangat ribet karena film itu sangat sensitif dengan cahaya, salah – salah film kalian bisa “terbakar”.  Pada foto diatas ini, gue menggunakan Fujifilm C200, yang berarti ASA nya 200. gue baru saja mengganti dari Kodak ke Fuji di siang hari itu, tentu saja masih banyak sisanya dong di malam hari. Karena terpaksa, gue mencoba menggunakan setelan F di 1.8 ditambah dengan shutter speed yang rendah. Alhasil, film ASA 200 tersebut masih bisa terekspos pada malam hari.

Gue akhirnya mulai ketagihan dan mencoba untuk membeli jenis – jenis film yang lain. Kali ini gue menggunakan Kodak Portra 400. Sesuai dengan namanya “Portra”, sebenarnya film ini lebih diperuntukan untuk foto “Portrait“, namun who gives a shit? Foto mah foto apa aja terserah gue hahahaha. Kodak Portra ini menghasilkan warna yang berbeda dari film – film yang gue coba sebelumnya. Ternyata benar masing – masing film itu memiliki karakteristik tersendiri. Gue pun pernah baca artikel tentang Portra ini, warna yang dihasilkan pada overexposure, akan berbeda dengan warna yang dihasilkan pada underexposure. Sampai sekarang pun gue masih belum memahami karakteristik film pada bagian itu. Namun, gue memang merasakan terkadang motret di beda tempat dan beda cahaya, warna yang dihasilkan bisa berbeda, meskipun menggunakan film yang sama. Mungkin itu yang dimaksud dengan perbedaan white balance. Kodak Portra ini kalian temukan pada harga diatas 100 ribu rupiah. Cukup mahal dibandingkan film sebelumnya bukan?

Ini pun salah satu film favorit gue, Kodak Ektar 100. Dengan ASA 100 ini, kita jadi lebih aman untuk motret pada saat siang bolong. Bisa kalian bandingkan juga antara Ektar dan Portra itu, menghasilkan warna yang berbeda dari satu sama lain. Gue juga paling suka motret objek yang sesuai generasinya dengan kamera analog. Contohnya ya seperti VW Kombi dan Beetle ini.

Ini juga film yang menurut gue sangat cocok pada harganya, yaitu Kodak Ultramax 400. Dulu gue pernah bertanya ke temen gue, enaknya beli film apa yang bagus? Temen – temen gue merekomendasikan film ini, karena menghasilkan warna yang menarik dengan harga yang tidak semahal Ektar dan Portra. Gue membeli film ini dengan harga 70 ribu rupiah. Film ini gue gunakan untuk event SuperDrift 2017 seri ke 2 di Wonosari. Jujur setelah gue menghabiskan 36 frame nya, gue penasaran dan deg-degan menunggu hasil dari film ini. Ternyata hasilnya sesuai dengan ekspektasi gue, yaitu gue bisa mendapatkan foto panning yang lebih tajam dari sebelumnya. Perasaan puas yang dirasakan saat melihat hasilnya, berbeda dengan saat gue melihat hasil kamera digital. Karena kan kalau kamera digital, kita bisa lihat hasilnya ditempat, kalau tidak berkenan ya tinggal dihapus saja fotonya. Kalau kamera film kan tidak bisa begitu, setelah menangkap sebuah gambar, ya harus tunggu dulu sampai selesai proses pencucian. Ditambah lagi, kalau ternyata hasilnya blur atau tidak sesuai ekspektasi, kan tidak bisa sekedar hapus dan foto ulang. Maka dari itu menurut gue bermain kamera film ini sangat melatih kesabaran.

 

Setelah beberapa bulan gue menggunakan kamera film, ternyata salah satu member MaximumDog juga ada yang tertarik untuk mencoba kamera film! Ucup pun memutuskan untuk membeli sebuah kamera SLR film. “Kok SLR sih? terus bedanya sama DSLR apa?” ya kalau DSLR itu kan Digital Single-lens Reflex, karena ini masih menggunakan film, maka namanya ya SLR saja. Sebenarnya, Canon FT QL yang gue pake pun bisa disebut SLR. Karena apa yang kita intip dari viewfinder, merupakan pemandangan yang persis melalui lensa kamera, direfleksikan dari cermin yang berada di dalam kamera. Beda halnya dengan kamera Rangefinder. Apa yang kita intip dari viewfinder dan apa yang tertangkap oleh lensa, memiliki perbedaan yang signifikan. Oke, jadi Ucup membeli SLR “Canon EOS-1”. Mungkin ini top of the line nya SLR Canon pada masanya. Keunggulan EOS-1 ini adalah, kita bisa menggunakan setelan Apperture priority, Speed priority, bahkan bisa menggunakan autofocusMount untuk lensa pada kamera ini adalah Canon EF. Jadi, kita bisa menggunakan lensa yang sama dengan DSLR Canon. Memberikan keuntungan untuk kita karena tidak perlu membeli lensa yang khusus. Misal beli lensa fix EF 50mm untuk DSLR Canon, lensa ini pun bisa dipakai di EOS-1. Praktis sekali bukan? Kurang lebih ya sama aja gitu kaya DSLR pada umumnya, bedanya ini masih menggunakan film. Jadi keterbatasan dan kesabaran kita dalam menangkap sebuah gambar seperti yang gue ceritakan, masih berlaku di kamera ini.

Akhirnya Ucup menggunakan kamera film nya untuk motret di event SuperDrift 2017 seri ke 3 di Wonosari lagi. Setelah menghasilkan foto yang fantastis, Ucup pun mulai ketagihan untuk menggunakan kamera film ini. Setelah itu pun, kami mulai mencoba banyak motret motorsport menggunakan kamera film.

Sampai juga waktunya untuk mendapatkan kesempatan menggunakan film di sirkuit Sentul! Ternyata jauh lebih menantang dari yang gue bayangkan. Disini gue bener – bener memikirkan, apa yang harus gue foto pada 36 frame pada film ini. Selama di Sentul, jujur gue punya kebiasaan motret hal – hal yang ujungnya ga kepake juga hahaha. Maka dari itu, disini gue menahan diri untuk motret hal – hal yang gue sangat perlu / ingin saja.

Gue lebih rela buang – buang film gue untuk foto – foto mobil seperti ini. Balap kelas retro difoto menggunakan kamera film, merupakan kombinasi yang sangat menarik aja gitu menurut gue. Kalau melihat hasilnya, seperti melihat foto zaman dahulu. Sedangkan kalau motret mobil tahun sekarang menggunakan kamera film, agak kurang wah aja gitu.

Bicara soal retro, film black & white tentu jauh lebih mendukung! Kami tidak hanya tertarik untuk membeli film berwarna saja, tetapi juga film black & white. Ucup membeli film B&W Kodak T-MAX 100. suasana nya jadi terlihat lebih klasik ya, dengan film B&W. Tapi jangan kalian kira semua film B&W itu sama saja. Tentu tidak, setiap film B&W pun punya karakteristik nya masing – masing.

Contohnya seperti ini. Gue membeli sebuah film B&W yaitu Ilford HP5 400. Bila kalian coba bandingkan, Kodak T-MAX cenderung lebih kontras, sedangkan Ilford HP5 cenerung lebih pudar. Apakah kalian bisa lihat perbedaanya? kalo nggak juga ngga apa – apa sih hahaha. Ilford HP5 ini merupakan film B&W pertama gue, dan baru saja selesai diproses beberapa hari yang lalu. Gue puas banget motret mobil klasik dengan film B&W, mungkin kedepannya gue bakal beli film ini lebih banyak lagi. Kesimpulannya, kalau kalian memang ingin mencoba “tricky” nya kamera film, selamat mencoba. Namun mohon diingat, harga film ini tidak bisa dibilang murah, dan biaya proses nya juga lumayan mahal. Beda ceritanya kalau kalian bisa proses film itu dengan tangan sendiri sampai selesai. Intinya kalau cuman pengen ikut – ikutan aja sih, sebaiknya jangan, mendingan motret pake kamera digital saja. Apabila sudah mulai main kamera film mohon diingat, jangan asal menyalahkan lab yang memproses, apabila hasil fotonya tidak sesuai ekspektasi kalian, karena bisa saja itu bermasalah dari kamera yang dipakai, atau dari kalian sendiri. Sekian tulisan dari gue, sampai bertemu di tulisan berikutnya. Ciao!

 

Words by Fauzan Pasha

Photos by Ardian Pradana & Fauzan Pasha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post

Leave Your Comment