SuperDrift 2018 Rd.1: Reminiscing Old Days of #MaximumDog

It’s good to be back to our original comfort zone!

Mungkin beberapa dari kalian bisa paham maksud gue. Karena event drifting di Indonesia, merupakan cabang otomotif pertama yang membuat kami, menjadi begitu tertarik dengan motorsport photography. Kali ini kami berkesempatan untuk hadir di acara kejuaraan nasional drifting Indonesia, dengan label nama “SuperDrift”. Kejuaraan ini bertempat di Landasan Udara Pondok Cabe, yang kebetulan cukup dekat dari tempat tinggal kami.

1st Day: SABTU

Ground zero. Inilah penampakan dari lintasan yang digunakan untuk event drifting kali ini. FYI, pada kejurnas tahun 2013, bertempat di tempat yang sama dengan kejurnas 2018 putaran pertama ini.

Karena kami datang pagi sekali, kami masih bisa melihat mobil – mobil dari peserta yang akan di loading ke paddock masing – masing.

Disitu pun ada salah satu teman kami yaitu Jody dari PixlFilms, yang sedang mengecek spot untuk foto yang bagus sebelum acara dimulai. Halo Jody!

Pagi itu terasa sangat menyenangkan, karena akhirnya kami bisa berkesempatan untuk menyaksikan drifting lagi.

\

Oke, kita berpindah ke area paddock. Hal yang sangat menarik buat gue, kali ini Amandio berpartisipasi menggunakan Nissan Silvia S15! Mungkin beberapa dari kalian pernah menyaksikan mobil ini di zaman awal – awal drifting muncul di Indonesia. Silvia S15 milik Dio ini sudah dipakai drifting dari dulunya berwarna kuning, lalu dicat dengan warna pink, pernah juga menggunakan livery motif batik. Mobil ini menggunakan motif batik karena disaat itu, Dio menggunakan mobil ini untuk berpartisipasi di acara Formula Drift Asia, seperti di Singapore, Bangkok dan lain – lain.

Kalau kalian tidak asing dengan S15 Dio yang berwarna pink, tentunya kalian sudah tidak asing lagi dengan orang yang diatas ini. Siapakah beliau? Beliau adalah Valentino Ratulangi, yang lebih akrab disapa dengan “Valen”. Valen sudah pernah mengikuti ajang drifting, disaat event drifting itu, sebulan bisa diselenggarakan lebih dari sekali. Valen sudah lama sekali absen dari dunia drifting Indonesia sebagai peserta. SuperDrift putaran 1 ini merupakan comeback dari Valen ke dunia drifting, dengan membawa nama ABM Motorsport.

Mas Dika CH juga ikut berpartisipasi dengan menggunakan Toyota Aristo/Lexus GS generasi kedua (JZS161). Jarang – jarang lho ada yang ikutan drifting menggunakan mobil ini.

Ini dia, salah satu partisipan favorit gue yaitu Ikhsan Utama. Ikhsan menggunakan Nissan RPS13 dengan Supercharged 1UZ-FE di dapurpacunya. Hal yang cukup unik dari Ikhsan adalah, dia menyiapkan mobil untuk drifting ini, hampir semuanya dilakukan dengan tangannya sendiri. Hebat sekali bukan?

Langsung saja kita masuk ke sesi practice yang pertama, Ucup sepertinya sudah siap dan tidak sabar untuk menangkap momen terbaik di sesi latihan pertama ini.

Bayu juga sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat berbagai aksi dari acara ini. Percayalah, kami hanya suntuk karena belum melihat aksi drifting, namun kami akan berubah ke mode sangat serius apabila aksi drifting itu sudah dimulai, untuk mendapatkan momen yang terbaik.

Tahukah kalian kenapa ada bapak ini duduk disitu? Bapak ini bertugas untuk mengukur kecepatan dari mobil di saat initiate dengan menggunakan speedgun.

Langsung saja kita pindah ke sesi latihan. Disini ada Adi Indiarto yang menggunakan Nissan Silvia S14. Gue lebih sering mendengar nama Adi Indiarto di dunia Speed Offroad,  namun beliau juga ikut berpartisipasi di SuperDrift 2018.

Lalu ada Allen Yong, peserta kelas Rookie yang cukup berbahaya dan tidak bisa diremehkan.

Tentu yang satu ini juga tidak luput dari urusan “tidak bisa diremehkan”. Dia adalah Rocca Schwarze. Dahulu Rocca berpartisipasi di kelas Driftstar dengan prestasi yang bisa dibilang sangat cemerlang. Namun kali ini dia naik ke kelas pro.

Siapa yang tak kenal dia? Dialah Danny Ferdito. Danny merupakan pemain lama, sama seperti Dio dan Valen. Namun dahulu dia menggunakan Lexus IS/Toyota Altezza pada zaman awal drifting, dan sempat berganti ke Lexus SC/Toyota Soarer. Pada akhirnya dia berganti lagi menggunakan Nissan RPS13. Dia adalah salah satu drifter yang menyandang titel juara nasional.

Ada juga pendatang dari kota Bandung, yaitu Ricko Nugraha. Dahulu dia berkompetisi di kelas Driftstar dan akhirnya naik ke kelas Rookie.

Bagi penonton setia platform Youtube, pastinya kalian sudah sering melihat Subaru BRZ ini. Tetapi mobil ini tidak dikendarai oleh Akbar Rais, melainkan bapak Dede Muhaimin yang merupakan owner dari HGMP.

Tentunya yang ini pun tidak kalah beken di Youtube. Dialah Ziko Harnadi, sang adik paling kecil dan Dipo Dwiki sang kakak kedua dari Garasi Drift! Ziko selalu menjaga mobilnya pada penampilan yang sempurna. Dipo kali ini menggunakan mobil milik Bimo Andotama sang kakak pertama. Dahulu yang berpartisipasi di dunia Drifting itu adalah Bimo dan Dipo. Tapi kali ini yang masih muncul disini hanya Dipo dan Ziko saja.

Setelah latihan sesi pertama pun selesai, dilanjut dengan briefing dari para juri untuk para drifter. Seharusnya setelah ini adalah sesi Qualifying, namun sepertinya sesi latihan ini dirasa kurang cukup untuk para drifter, maka setelah ini dilanjut lagi dengan sesi latihan.

Seperti biasanya, Ikhsan being Ikhsan. Dia lebih memilih memejamkan mata daripada memperhatikan briefing dari Juri.

Oke, salah satu hal yang menurut gue menarik dan gila pada acara kali ini adalah. Kemunculan mobil Nissan Cefiro berwarna biru ini secara tiba – tiba. Kenapa begitu? Karena sang pengendara, Abdul Aziz pada pagi hari, datang sebagai racing support dari Afif Diamanta. Gue bertanya “Lo ga ikutan ziz?”, lalu dia menjawab “tahun ini enggak dulu deh.”. Sekitar jam 10 pagi tiba tiba dia bilang “kok gue jadi pengen ikut ya?”, awalnya gue kira cuman becanda, eh gataunya beneran hahahaha. Kebetulan cefiro milik Iqbal ini sedang disimpan dirumah Aziz, yang tidak jauh dari Pondok Cabe. Sepertinya dia juga mendapat support untuk mengikuti acara ini. Tanpa pikir panjang dia pun langsung menjalankan mobil ini dari rumahnya ke Pondok Cabe. Dasar orang gila!

Ya tidak heran sih, namanya juga dadakan. Baru run pertama, mobil ini mengalami masalah di tengah lintasan, sehingga butuh bantuan dari para marshall lintasan.

Setelah sedikit run dari sesi latihan kedua, akhirnya diisi dengan latihan tandem. Tandem ini merupakan battle dari para peserta yang akan menentukan siapa juaranya. Latihan tandem ini dimulai dengan Alinka Hardianti melawan Dio. Ya, Alinka merupakan wanita yang mengikuti banyak ajang balap di Indonesia ini. Tidak sekedar ikutan saja, namun Alinka juga meraih juara pada ajang balap yang dia ikuti. Kalau di ingat – ingat, di zaman drifting Indonesia masih ada kelas FWD, Alinka merupakan salah satu jagoan di kelas tersebut, menggunakan Toyota Yaris.

2nd Day: MINGGU

Tidak disangka, mas Chandra “tampil beda” di kejurnas putaran pertama ini. Kali ini dia tidak menggunakan chassis Cefiro A31, melainkan Nissan Fairlady Z 300ZX (Z32). Mobil ini sebenarnya sudah dijalankan dari hari Sabtu, tapi mengalami masalah di run pertama, sehingga kita tidak bisa melihat mobil ini benar – benar beraksi. Mungkin ini pertama kalinya gue melihat Z32 digunakan untuk drifting dengan mata dan kepala gue sendiri.

Tidak hanya mas Chandra saja, mas Dika juga mengalami masalah pada mobilnya di hari Sabtu. Sehingga harus menggunakan mesin spare yang telah disiapkan olehnya. Para mekanik ini benar – benar hebat ya, baru kemarin sore mulai membongkar mesin, pada pagi besoknya, sudah terpasang mesin spare pada mobil mas Dika. Di zaman gue belum mulai motret,gue datang ke acara Formula Drift Asia yang diadakan di Jakarta. Disaat itu, gue sangat amazed dengan drifter Thailand yang membawa spare mesin dan gearbox. Ternyata, hal yang sangat wow buat gue itu, saat ini sudah dilakukan oleh mas Dika.

Mas Chandra pun ternyata sudah tidak sabar untuk segera mencoba mobil yang sudah disiapkannya ini. Dia sudah mengantri duluan sebelum sesi latihan pagi dimulai. Jujur gue sendiri pun tidak sabar untuk melihat mobil ini melaju, dan gue sangat terkesima dengan keberanian mas Chandra yang menggunakan chassis Z32 ini.

Begitu jam menunjukan waktu untuk sesi latihan, yang pertama kali start? Tentu saja mas Chandra. Gue sangat amazed bisa melihat Z32 digunakan untuk drifting. Kalau melihat mobilnya saja, sebelumnya sih sudah pernah.

Setelah sesi latihan pagi selesai, dilanjut dengan sesi Qualifying. Merupakan sesi penilaian yang akan menentukan posisi bracket dari para drifter untuk sesi tandem. Bisa kalian lihat stiker yang tertempel di mobil Valen, kami baru saja memproduksi cutting sticker dengan ukuran lebih besar dua kali lipat dari yang sebelumnya. Belum punya? go get one from us!

Tidak kalah “beda” nya dengan mas Chandra, Aldy Bosar menggunakan Nissan Fairlady Z (Z33) juga! Kesan gue atas mobil ini, sangat susah difoto apabila kita dilewati bagian belakang dari mobil ini. Asap ban nya tebel banget hahaha, tapi jadi keren banget sih kalo fotonya selain dari bagian belakang.

Lalu ada Rengga Mahendra, yang sebelumnya menggunakan chassis A31, kali ini dia tampil menggunakan chassis BMW E46. Menurut gue terbilang cukup jarang melihat E46 yang dipakai drifting di Indonesia. Tidak sebanyak E36 yang dipakai drifting. Kalau di ingat – ingat, pada kejurnas tahun 2013, sudah ada yang menggunakan E46 terlebih dahulu. Sebuah E46 coupe yang dikendarai oleh Herdiko. Namun sepertinya Herdiko lebih memilih untuk mundur dari dunia drifting.

Terkadang gue pun cukup bosan dengan angle foto kami yang seperti biasanya. Akhirnya gue mencoba untuk membuat foto seperti ini dengan menggunakan lensa wide. Ada yang mau mencoba juga? selamat mencoba!

Meskipun Ikhsan lebih memilih untuk tidur saat briefing, dia tetap menyelesaikan Qualifying run dengan baik.

Perjuangan dan usaha tidak mengkhianati hasil. Mobil mas Dika juga berada di kondisi yang prima, setelah menggunakan mesin spare.

Seperti biasanya juga, Dio melakukan Qualifying run nya dengan sangat gila. Alhasil, dia meraih nilai tertinggi dari semua drifter yang berpartisipasi.

Bisa kalian lihat, Ical yang kali ini ikut bersama kita untuk membuat sebuah video pendek. Dulu kita sangat berangan – angan untuk bisa membuat sebuah footage onboard dari mobil drifting dengan kualitas yang bagus. Jaman dulu sih, kita taunya cuman nempelin GoPro saja, dengan hasilnya yang masih kurang dengan ekspektasi kita. Tapi, kali ini kita sudah punya sebuah alat yang kita beri nama “Ghetto Clamp” yang berfungsi untuk menaruh kamera sejenis DSLR di dalam mobil. Bagi yang penasaran dengan hasil video nya, bisa cek di channel youtube kita, “maximumdog”.

Sebelum dilanjut ke sesi tandem, seperti biasa, para peserta dikumpulkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Setelah sedikit kata untuk pembukaan acara, ada sesi foto bersama para peserta. Inilah sekumpulan drifter yang ikut berpartisipasi dalam kejurnas drift putaran pertama.

Sesi ini diawali dengan tandem battle dari kelas Driftstar. Kelas ini hanya diikuti oleh lima peserta saja. Padahal, pada zaman kelas Drifstar baru diadakan, pesertanya sangat ramai. Kalau gue tidak salah ingat, bisa melebihi dari 10 mobil yang mengikuti kelas tersebut. Kelas ini bisa diikuti dengan mobil spek rendah, sehingga dahulu banyak sekali para drifter pemula yang mengikuti kelas Driftstar. Gue tidak berharap apapun sih, tapi sepertinya seru ya kalau kelas Driftstar bisa ramai lagi seperti dahulu.

Setelah itu, dilanjut dengan kelas Rookie! Kelas yang berisi antara drifter yang masih mencoba untuk meraih juara, dengan mobil dengan spek diatas kelas Driftstar atau mungkin bisa setara dengan kelas Pro. Namun, drifter yang berada di kelas Pro hanya drifter yang sudah sering juara di tahun sebelumnya, dan tertulis di daftar drifter Pro yang diakui oleh IMI (Ikatan Motor Indonesia). Di foto diatas ada Ziko melawan mas Chandra.

Tapi sayang, mas Chandra harus rela gugur, karena mobilnya masih dalam kondisi yang belum prima. Tidak apa – apa, masih bisa dicoba lagi.

Keseruan Battle kelas Rookie masih terus berlanjut. Namun ternyata sesi ini memakan waktu yang cukup banyak. Karena setelah sesi ini masih ada satu sesi lagi, yaitu campuran antara kelas Pro dan Rookie. Disaat itu gue khawatir karena, ada kemungkinan babak final dari sesi tersebut, akan berlanjut sampai matahari terbenam. Apabila matahari sudah terbenam, maka kondisi lintasan akan menjadi gelap, meskipun sudah disorot lampu.

Tapi ya, nikmati sajalah keseruan yang ada. Seperti momen – momen macam foto diatas ini. Jangan mentang – mentang namanya Rookie, kalian kira hanya berisi “pemula”. Kelas ini masih berisa orang – orang yang cukup gila kok seperti foto diatas ini.

Akhirnya sampai di sesi yang paling hore dari acara ini! Best 32 campuran dari kelas Pro dan Rookie. mulai muncul mobil – mobil yang berbeda dari kelas sebelumnya bukan? Selain Rocca, ada juga Dipo dan Evan yang sudah cebur kedalam kelas Pro.

Sesuai pernyataan gue sebelumnya, bahwa sesi ini campuran antar 2 kelas, kalian mungkin bisa lihat bahwa foto diatas adalah mobil dari kelas Pro melawan kelas Rookie. Ya jadi kurang lebih, para drifter kelas Rookie memiliki kesempatan untuk main dua kali. Tetapi, main di kali kedua nya itu mungkin agak berat ya, karena harus bertemu dengan drifter kelas Pro.

Gue percaya bahwa, sesuatu hal yang kita tekuni, kita lakukan dengan sungguh – sungguh, ditambah skill dan modal yang memadai, kita bisa terus berkembang sampai keatas. Memang ada modal yang harus dikeluarkan, tapi menurut gue, modal tanpa niat dari diri sendiri, tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Contohnya dari drifter yang diatas ini, yaitu Muchamad Irdam asal Bandung. Gue sangat ingat, bahwa Irdam sudah mulai drifting menggunakan Cefiro dengan mesin bawaannya, dari zaman gue belum mulai motret. Seingat gue pun, di tahun 2013, Irdam masih menggunakan mobil dan mesin yang sama. Seiring berjalannya waktu, di tahun 2018 ini, ternyata dia sudah masuk ke kelas Pro. Tentu ini adalah hal yang “wah” menurut gue, karena gue sudah melihat dia dari baru mulai mengikuti kompetisi drifting.

Sama hal nya dengan Rocca. Gue juga ingat bahwa, Rocca ini awalnya drifting menggunakan BMW E36 323i yang dipakai harian olehnya, dan berpartisipasi di kelas Driftstar. Sampai akhirnya dia mengganti mobilnya dengan E36 bermesin 1UZ-FE untuk mengikuti kelas Rookie. Pada tahun 2018 ini pun, dia sudah naik ke kelas Pro, masih menggunakan E36, namun bermesin 2JZ-GTE. Gue merasa cukup beruntung karena bisa menyaksikan 2 orang ini, mulai dari nol.

Dua orang ini sepertinya adalah termasuk dari orang – orang yang mencetuskan drifting di Indonesia. Disaat itu sih gue belum pernah melihat drifting secara langsung, tapi sudah mulai penasaran melalui internet dan media sosial. 8 tahun yang lalu, ada acara yang berjudul “Achilles Drift Challenge”, bertempat di parkiran sirkuit Sentul. Selain perempatan Pondok Indah Mall, mungkin itu salah satu event yang selalu teringat di kepala gue, berkat browsing video di platform YouTube. Yup! Kalau kalian pernah dengar atau lihat acara tersebut, Danny dan Dio merupakan peserta dari acara tersebut. Bahkan saat itupun, Dio menggunakan mobil yang sama dengan foto diatas.

Kalau kalian tahu, mas Dika CH juga merupakan pemain lama di dunia Drifting ini. Dahulu dia juga menggunakan nissan Cefiro, dan merupakan drifter yang sama sekali tidak bisa diremehkan. Gue sangat senang karena bisa melihat mas Dika bisa push to the limit pada Aristo yang dia kendarai. Yup! Gue paling suka melihat mobil – mobil yang jarang dipakai untuk drifting. Kapan lagi bisa lihat Aristo drifting di Indonesia? Mungkin kalian ingat juga, Alinka pernah menggunakan Aristo generasi pertama di tahun 2013.

2 mobil ini juga cukup berkesan buat gue. S14 yang dikendarai Adi ini kalau tidak salah, dulu pernah dipakai oleh Dio untuk drifting pada “Achilles Drift Battle” beberapa tahun yang lalu. Mobil ini merupakan S14 pertama, yang gue liat digunakan untuk drifting. Sedangkan RPS13 yang digunakan Ikhsan, dahulu digunakan oleh Rhenadi Arinton, dan merupakan kali pertamanya gue melihat V8 supercharged dipakai drifting. Gue juga ingat dulu pernah dipakai oleh Dean Zen pada acara “Driftwar” tahun 2012, yang menurut gue, disaat itulah gue menyaksikan titik pol nya dari mobil tersebut.

Lanud Pondok Cabe merupakan tempat yang paling berkesan bagi member dari #MaximumDog, ditambah dengan foto – foto semacam yang diatas ini. Kami biasa menyebutnya panning goblok. Seperti yang pernah gue ceritakan pada artikel pertama gue, bahwa di tempat ini lah, mulai terbentuknya hashtag MaximumDog. Pada tahun 2013 Gue, Ucup, Acong dan Ical, bertemu di Lanud Pondok Cabe, acara Kejurnas Drifting yang pertama di Indonesia. Kami merupakan big fan of SpeedHunters. Gue inget bahwa, Ucup sebelumnya menyarankan gue untuk rajin membaca artikel speedhunters untuk referensi. Banyak sekali ditemukan foto semacam ini di artikel speedhunters. Sore hari di hari terakhir, kami berempat berkumpul di satu spot foto. Kami berkumpul dengan maksud, saling mengadu untuk mendapatkan foto panning yang terbaik. Setelah itu, kami saling swearing satu sama lain setelah melihat hasil foto masing – masing. Kenapa MaximumDog? karena, swearing yang paling sering terdengar di saat itu seperti “wah anjing!” “anjing kok bisa?” “anjing, gila juga lo!” atau “asutenan!”. Mungkin setelah kejadian itu, kami mulai sering – sering bertemu untuk sharing ilmu fotografi, dan muncul lah hashtag MaximumDog berdasarkan kata “asutenan”. Disaat itu, hashtag MaximumDog hanya ditemukan pada, kurang dari lima post Instagram. Bahkan hashtag itupun terdapat pada foto – foto (literally) hewan anjing. Tanpa pikir panjang pun, #MaximumDog langsung kami bombardir dengan foto – foto drifting dari kami.

Sampai di penghujung acara, yaitu babak final dari Best 32 campuran Rookie dan Pro. Babak ini diisi dengan Alinka melawan Dio, memperebutkan tempat pertama dan Valen melawan Allen Yong memperebutkan tempat ketiga . Ternyata ke khawatiran gue atas matahari terbenam sebelum close track itupun terjadi. Karena banyak sekali OMT (One More Time) pada battle sengit di babak sebelumnya.

Namun tidak disangka, yang awalnya gue khawatir karena gelap, berubah menjadi perasaan bahagia. Secara tidak sengaja, penempatan lampu sorot pada lintasan, membantu gue untuk mendapatkan foto – foto seperti yang diatas ini. Mungkin ini merupakan best shot bagi gue pada acara SuperDrift putaran pertama. Lucky shot in the right place & right time. Beberapa orang bilang foto ini mirip seperti foto pada stage konser musik.

Setelah close track, mobil para drifter dipindahkan ke dekat panggung podium, untuk menyaksikan pembagian piala. Disini lah momen dimana para penonton, wartawan atau para pendukung dari drifter, melakukan interaksi dengan para drifter yang berpartisipasi.

Penghargaan pertama diberikan kepada Dio, atas meraih nilai tertinggi pada saat sesi Qualifying.

Comeback dari Valen ke dunia drifting ternyata membuahkan hasil yang cukup baik. Dia meraih tempat ke empat kelas Rookie.

Tempat ketiga diraih oleh Adi Indiarto, kedua Allen Yong, dan tempat pertama diraih oleh Ziko Harnadi! Pada akhirnya sang adik paling bungsu berhasil untuk meraih juara pertama. Momen yang cukup unik.

Mengapa demikian? Kalau kalian masih ingat, pada Kejurnas Drift 2013 putaran pertama, Dipo meraih tempat pertama di kelas Rookie. Keberhasilan sang kakak ternyata dilanjut oleh adiknya di Kejurnas Drift tahun 2018, pada putaran pertama juga.

Lanjut ke pengumuman juara dari kelas campuran. Ternyata, lagi – lagi podium ini diisi dengan Valen dan Allen Yong! Valen sekali lagi menempati tempat ke empat, dan Allen pada tempat ke tiga.

Dan ternyata Dio berhasil dikalahkan oleh Drifter wanita Indonesia, yaitu Alinka! Dio menempati tempat ke dua, dan Alinka dengan bangga nya menempati tempat pertama.

Merupakan suatu kebahagiaan bagi sebuah tim, karena salah satu pembalapnya berhasil menempati posisi pertama. Tentu kalian akan ikut bahagia kan apabila teman seperjuangan kalian bisa meraih kesuksesan dalam suatu hal? Oke, sekian dulu tulisan dari gue. Gue sangat bahagia bisa motret acara drifting ditempat yang sangat berkesan bagi gue dan #MaximumDog. Sampai bertemu di tulisan berikutnya! Ciao!

Words by Fauzan Pasha

Photos by Ardian Pradana, Dimas Rajasa & Fauzan Pasha

Share this Post

Leave Your Comment