Malaysia Boleh!

Which loosely translated means “Malaysia Can Do It!”. Betul sekali, Malaysia bisa! Bisa dan berhasil membuat gue……. Apa ya? Mungkin jatuh hati kali ya. Beberapa dari kalian yang baca, mungkin sudah paham bahwa gua punya hobi Planespotting. Bagi yang belum tahu, itu merupakan kegiatan foto – fotoin pesawat. KLIA menawarkan pesawat – pesawat yang cukup variatif, mungkin beberapa tidak akan ditemukan di Cengkareng, beserta spot foto yang menurut gue sangat bagus. Selain itu, gue pun suka sekali kuliner-nya. Gue suka sekali nongkrong di suatu tempat makan, yang umumnya disebut “Mamak”, makanannya berupa aneka hidangan nasi khas Malaysia, Maggi goreng (kalo di Indo ya Indomie), roti naan, canai, dan teh ais yang merupakan Teh tarik. Uniknya, bila kita pesan “teh ais” yang akan dihidangkan adalah teh tarik, kalau mau es teh manis seperti disini, namanya “Teh O ais” yang berarti es teh tanpa susu. Selain mamak, gue suka makan nasi ayam hainan di sebuah restoran bernama “Nasi Ayam Chee Meng” dan roti Cheese Naan di resto yang gua pun lupa apa namanya. Transportasi umum di KL pun sudah terintergrasi, sehingga sangat mudah untuk berpergian dengan transportasi umum.

Kali ini, gue akan bercerita tentang pengalaman gue yang cukup berbeda dengan sebelumnya. Tidak tentang makanan yang enak, atau transportasi yang bagus. Melainkan, kali ini gue berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sirkuit yang terkenal di dunia, yaitu sirkuit Sepang!

 

Sumber: https://www.sepangcircuit.com/facilities/racing-circuits

Inilah peta dari sirkuit Sepang, biar kalian kebayang juga gitu kan hahaha. Sirkuit ini satu putarannya memiliki panjang 5,5km, terdiri dari 15 tikungan, dengan lurusan terpanjang 927,543 meter. Jadi gue kali ini ngendok di South Paddock, yang merupakan Support Paddock, terletak di lurusan antara turn 14 dan 15. Sementara paddock utamanya terletak di lurusan antara turn 15 dan 1.

Perjalanan ini sama sekali tidak direncanakan. Hari senin malam gue menerima telepon dari Fadil. “Selasa, Rabu, Kamis free nggak? Ikut gue ke Sepang yuk.”. Untungnya sih tidak ada kegiatan di 3 hari tersebut, gue langsung mengiyakan ajakan tersebut, kapan lagi yakan bisa foto di sirkuit Sepang. Bahkan gue baru menerima tiket pesawatnya di hari selasa siang, akan berangkat pada hari selasa malam. Latihan hari pertama, bertepatan pada hari Rabu. Jujur gue sangat buta dengan sirkuit ini, belum pernah sama sekali datang kesini. Berhubung ini hanya latihan saja, bukan balap, tentu gue akan memanfaatkan momen ini untuk explore spot foto di sirkuit Sepang. Karena dadakan, gue hanya bisa membawa 1 body kamera full frame, 1 body kamera APS-C, 70-200mm f4 dan 50mm f1.4 saja.

Belum sampai setahun dari perjalanan Shanghai, gue bisa bertemu lagi dengan mobil Porsche GT3 Cup (991) ini. Maksud dan tujuan dari perjalanan ini adalah, Fadil akan latihan & dilatih secara khusus oleh salah satu pembalap kelas Pro di ajang Carrera Cup Asia, yaitu Will Bamber. Fadil menggunakan mobil milik tim Earl Bamber Motorsport. Nama Earl Bamber seharusnya sudah terkenal di dunia motorsport, beliau adalah pembalap profesional asal Selandia Baru,  merupakan factory driver untuk Porsche dalam the FIA World Endurance Championship kelas LMP1, dan North American United SportsCar Championship pada kelas GT Le Mans. Will, yang akan menjadi pelatih Fadil selama latihannya di Sepang, adalah adik dari Earl Bamber.

Sebelum memulai sesi latihan, diwajibkan untuk mengisi formulir ini, kurang lebih formulir ini berisi terms & conditions dan sebagainya, harus diisi dengan nama, nomor passport, alamat, pihak yang bertanggung jawab, beserta nomor yang bisa di contact. Bahkan gue pun harus mengisi ini, karena mengambil foto di sekitaran sirkuit itu sangatlah berbahaya. Jangan kalian kira foto di sirkuit balap itu hanya tinggal jalan dan pencet tombol shutter kamera saja, kita juga harus memikirkan keselamatan bersama. Gue pun mendapat sedikit brief dari pihak sirkuit Sepang, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, selama gue berkeliling di sirkuit ini.

Semua persiapan selesai, dan Fadil mulai masuk ke dalam sirkuit dengan mobil latihannya selama 2 hari di Sepang. Gue senang sekali dengan tim ini, mereka termasuk ramah kalau menurut gue. Minuman dan camilan semuanya tersedia disini, dan para mekanik nya juga memberikan suasana yang menyenangkan, santai dan tidak ada ketegangan sama sekali.

foto di straight selalu menjadi beberapa frame pertama gue, ketika gue masih buta akan sirkuit yang gue datangi. Ya seperti yang kalian lihat diatas, 2 foto ini diambil di straight antara turn 14 & 15Toh tinggal nyebrang doang dari pit, deket. Sekalian juga gue ngetes – ngetes dulu lah sebelum jalan jauh ke spot foto yang lainnya. Foto diatas diambil dengan lensa 50mm, bukan lensa wide. Kalian akan mendapatkan foto yang terlihat berbeda apabila menggunakan lensa wide. Contohnya seperti di bawah ini.

Cukup berbeda bukan? foto ini diambil menggunakan lensa wide.

Gue mencoba pindah ke spot yang lain, yang paling dekat dari paddock tempat gue ngendok. Tikungan ke kiri ini adalah turn 12, gue menggunakan 70-200mm, focal length nya sudah mentok di 200mm, dipasang di kamera APS-C. Pada foto yang ke 2, 3 dan 4, gua melakukan sedikit cropping. FYI 200mm pada kamera APS-C itu jadi “berasa” kurang lebih 324mm, dan gua melakukan cropping lagi. Jadi bisa kalian bayangkan apabila lensa 200mm dipasang di kamera full frame, akan menjadi jauh sekali dari objek di titik yang sama dengan foto diatas. Dari spot kedua ini, gue menyimpulkan bahwa, gue setidaknya perlu lensa dengan focal length 300m agar aman dan perlu 400mm/500mm kalau ingin puas dan close up. Namun, bukan berarti lensa 200mm tidak bisa dipakai di sirkuit Sepang ini, kita tetap bisa menggunakan lensa tersebut untuk membuat foto yang bagus, hanya saja terasa kurang dekat.

Untuk foto – foto kegiatan selama di paddock, gue menggunakan lensa 50mm f1.4 yang dipasang di kamera full frame. Kali ini gue mendapatkan focal length yang betul – betul 50mm, tidak “berasa” kurang lebih 81mm. Mengapa begitu? itulah bedanya full frame dan APS-C. Namun, bukan berarti APS-C itu tidak bagus, terkadang APS-C itu membantu kita untuk mendapatkan jangkauan yang lebih jauh dari kemampuan lensa tersebut. Dengan diafragma lensa 1.4, gue bisa mendapatkan foto – foto yang “bokeh” seperti foto foto diatas.

Apakah wajib menggunakan lensa wide atau lensa fix yang agak lebar untuk foto kegiatan di paddock? tentu saja tidak. Gue mengunakan 70-200mm untuk foto diatas ini. Tergantung bagaimana cara ngambilnya saja. Semuanya terserah kalian mau menggunakan lensa apapun.

Oke, kita lanjut jalan – jalan mencari spot lagi. Inilah spot yang terdekat dari south paddock, selain turn 12. Ini adalah turn 9, masih cukup menggunakan lensa 200mm pada kamera APS-C. Bisa kalian perhatikan bahwa pada tikungan ini, terlihat perbedaan elevasi nya. Jadi dari turn 9 ke 10 & 11 itu jalannya agak nanjak.

Putar badan 180 derajat dari spot sebelumnya, inilah pemandangan yang bisa kita dapatkan. Kalian bisa lihat pada foto diatas, cuacanya mendukung sekali untuk turun hujan. Benar saja, tidak lama kemudian turun hujan yang cukup deras. Akhirnya gue berteduh di pos marshall terdekat. Surprisingly, para marshall di Sepang mayoritas ramah. Gue ditawarin minuman, camilan dan lain – lain. Namun ada juga yang nagging, nanya tapi kaya interogasi.

What i love about wet track is, WATER SPRAY!!!!

Berjalan lebih jauh lagi, sampai di tikungan terakhir sirkuit Sepang, yaitu turn 15. Pada foto ini gue menggunakan 200mm di kamera full frame. Bisa dibayangkan apabila menggunakan lensa yang lebih jauh jangkauanya, ditambah dengan tribun yang terisi penuh oleh penonton, akan menjadi foto close up yang menarik pastinya.

Sisi lain dari turn 15, dari sini kita bisa melihat bangunan paddock utama dari sirkuit Sepang.

Gue mulai merasa butuh lensa tele yang lebih panjang dari 200mm, untuk spot foto di turn 5 ini.

Sampai juga di titik terjauh dari tempat gue ngendok (South Paddock). Turn 1 & 2, dekat dari paddock utamanamun jauh sekali dari support paddock. Jujur gue gempor banget jalan kaki sampai spot ini, kalian bisa kira – kira sendiri sejauh apa gue jalan, berdasarkan peta yang sudah gue cantumkan diatas. Sebenarnya, kalau memang mau langsung ke spot ini dari turn 15, bisa ambil jalan potong melewati paddock utama. Sementara gue memilih menelusuri sepanjang turn 6, 5, 4 dan 3. FYI panasnya Malaysia & Indonesia itu SAMA SAJA, kebayang kan panasnya seperti apa.

Foto inilah yang membuat gue, bela – belain jalan jauh ke turn 2. Menurut gue, ini merupakan signature dari sirkuit Sepang. Gue udah cukup lama memimpikan bisa membuat foto yang seperti ini. Memang bukan sesuatu yang baru bagi khalayak ramai, tapi ini sesuatu yang baru buat gue selama bermain dengan kamera.

Karena keinginan gue sudah terpenuhi, gue kembali ke south paddock, dan gaakan jalan ke turn 1 & 2 lagi. Setiap fadil kembali ke paddock dan turun dari mobil, pasti ada sesi evaluasi dari Will. Menurut gue ini latihan yang serius, bukan sekedar nyobain mobil di dalam sirkuit saja. Sesuatu yang tidak terduga itu biasanya menarik bukan? Hal yang tidak terduga itu adalah, sesi latihan malam!

Sebelumnya gue sudah pernah liat beberapa foto dari rekan gue, orang Malaysia yang biasa motret di sirkuit Sepang ini, terutama foto – foto sesi balap malam. Memang saat itu gue berfikiran bahwa foto sesi malamnya keren – keren, gua cukup terkesima. Ternyata, melihat secara langsung memberikan sensasi yang sangat berbeda. Jujur gue se norak itu saat kembali ke sirkuit pada malam harinya.

Pada foto – foto ini, gue menggunakan ISO 1600 dan diafragma 2.0 saja. Itupun sudah bisa mendapatkan shutter speed di 1/500 – 1/1250. Jika tidak ingin menggunakan ISO 1600, mungkin maksimal di 800, tentu saja masih bisa.

Foto – foto ontrack pun, gue masih menggunakan ISO 1600 saja, dengan shutter speed tidak lebih rendah dari 1/50. Untuk foto ontrack, gue menggunakan lensa 70-200mm yang perlu diingat bahwa diafragma paling lebarnya adalah 4.0. Bayangkan jika bisa membuka f lebih lebar lagi, mungkin bisa menggunakan ISO yang lebih rendah, atau shutter speed yang lebih cepat, sesuai bagaimana kalian ingin membuat foto yang seperti apa.

Karena sesi latihan malam nya hanya tersedia 1 jam saja, gue tidak bisa explore banyak dari sirkuit Sepang versi malam hari ini. Kalian nikmati saja foto -foto Sepang versi malam ala kadarnya ini hahahaha. Setelah sedikit ngobrol dengan beberapa marshall, gue akhirnya tahu bahwa sirkuit Sepang ini adalah proyekan dari perdana mentri Mahathir Mohamad, rasa terima kasih saya untukmu pak Mahathir.

Gue berharap bisa kembali lagi ke sirkuit Sepang di hari yang akan datang. Mungkin tidak pada sesi latihan, tetapi sesi balap yang seharusnya, entah siang atau malam hari, pokoknya gue terima saja hahaha. Mungkin segitu saja dari gue, semoga tulisan gue kali ini cukup bermanfaat bagi kalian yang suka bertanya “pake kamera apa bang?” “pake lensa apa bang?” “settingan kameranya gimana bang?”.  Sampai ketemu di tulisan gue yang berikutnya.

 

BONUS IMAGES

 

Words & Photos by Fauzan Pasha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post

Leave Your Comment