Hayo ngaku, siapa yang nungguin part kedua? ngga ada ya? yaudah deh gapapa. Oke jadi cerita ini berlanjut di hari ke tiga dari perjalanan gue, Fadil dan om Rachmat. Kemarin kita berkecimpung dengan supir taksi yang tidak bisa berbahasa Inggris, untuk hari ini, kami tidak perlu takut dengan hal – hal semacam itu. Untuk 3 hari kedepan, termasuk di hari Jumat itu, panitia PCCA menyediakan shuttle khusus dari hotel, menuju sirkuit. Kedengarannya menyenangkan ya, kita tinggal duduk saja, tidak perlu keluar uang dan lain – lain. Yang menjadi masalah adalah, hanya tersedia dua kloter shuttle, kloter pertama jam 7.10 pagi dan yang kedua jam 7.15 pagi. Lewat dari itu, tidak ada shuttle lagi, which is kita harus cari kendaraan sendiri. Mau penuh, mau kosong pun, bus ini akan berangkat tepat pada waktu yang dijadwalkan Gue inget banget, karena gua mengedit beberapa foto di hari Kamis, dan koneksi WiFi hotel yang sangatlah bodoh, akhirnya gue baru bisa tidur lewat dari jam 12 malam. Koneksi WiFi bodoh? benar, kalian ga salah baca, gue ngga ngerti kenapa ya, koneksi internet di Cina itu tidak bagus sama sekali. Masih jauh lebih cepat paket internet roaming. Oke skip, jadi gue terbangun di pagi itu, karena om Rachmat membangunkan gue dan Fadil. Disaat gue bangun itu, diluar langit masih gelap hahaha. Demi mengejar waktu shuttle, dan agar sempat sarapan terlebih dahulu, gue pun langsung bangkit dari tempat tidur dan mandi. Setelah gue mandi, ternyata Fadil belum bangun juga. Dia ini cukup susah untuk dibangunkan. Sampai akhirnya diluar langit mulai terang, dia baru bangun.

Inilah pemandangan dari jendela kamar setelah mulai terang. Kabutnya parah banget, mirip – mirip lah ya kaya Jakarta. Beda banget sama hari Kamis. Hari Kamis langitnya cenderung lebih bersih dan cerah, gue sih takut banget kalo sampai hujan di sirkuit. Setelah Fadil bangun dan mandi, kami pun mempersiapkan barang – barang kami dan turun dari kamar untuk sarapan terlebih dahulu.

Kita sarapan pada pukul 6.30, dan kita berhasil naik ke shuttle yang dijadwalkan berangkat pada jam 7.10, yaitu shuttle kloter pertama. Maaf banget gue sama sekali ga kepikiran buat foto shuttle nya seperti apa. Jujur, disaat itu gue masih ngantuk banget, yang ada di pikiran gue adalah, naik ke bus, duduk dan tidur selama perjalanan ke sirkuit. Bus yang kami naiki itu, sepertinya hybrid. Karena gue tidak mendengar suara mesin sama sekali disaat bus itu melaju di kecepatan rendah. Jadi tidur gue cukup nyenyak karena keheningan dari bus ini.

Karena tidur yang pulas, gue pun ngga sadar kalo kami sudah dekat dengan sirkuit. Gue terbangun bukan karena sudah sampai, tapi karena bus melalui jalan yang bergelombang, dan seinget gue, karena goncangannya teralu keras, gue terlempar sedikit dari kursi dan akhirnya terbangun. Bisa kalian lihat, untuk hari ini, Fadil membawa satu koper yang cukup besar. Tentu saja, karena barang bawaan dia sebagai pembalap itu banyak sekali, seperti helm, racing suit, sepatu, head and neck support, balaclava dan lain – lain.

Kalau kalian perhatikan pada artikel sebelumnya, tentu kalian tahu, bahwa baru hari Jumat itu, stiker nama dan nomor start baru saja tertempel pada mobil. Fadil memilih nomor start 62 itu, gue juga kurang ingat apa alasannya, tapi yang pasti dia bilang ada hubungannya dengan Indonesia.

Pagi itu kami bertemu dengan pembalap yang berbagi pit dengan Fadil, yaitu Mr. Paul Tresidder. Bapak Paul ini berasal dari Australia. Beliau bercerita bahwa ia sudah mengikuti PCCA ini sejak tahun 2007. Kalau tidak salah ingat, bapak Paul ini umurnya sudah lewat dari 60 tahun, sudah senior sekali bukan? Beliau juga bercerita tentang ajang balap lain yang ia ikuti seperti Australian GT Championship dan Bathurst 12 Hour. Beliau pun mengatakan bahwa ia pecinta Porsche, dan memiliki beberapa mobil Porsche di kampung halamannya. Karena beliau sadar bahwa, Fadil masih sangat asing dan pemula dengan PCCA, beliau menawarkan untuk sharing race engineer selama test day ini berlangsung. Benar sekali, Fadil datang ke Cina tanpa membawa race engineer. Jadi kebaikan dari bapak Paul ini sangat membantu Fadil dalam menjalani test day ini. Apa itu race engineer? Nanti akan gue jelasin lebih lanjut.

Setelah dari pit, kami naik ke atas, ke bagian hospitality, untuk acara press conference. Inilah yang membuat Fadil khawatir semalaman. Kenapa begitu? Karena ini adalah pertama kalinya dia berbicara didepan banyak media, layaknya seorang pembalap profesional. Karena Fadil adalah pendatang baru di PCCA, maka dia mendapat waktu untuk sesi berbicara didepan media, bersandingan dengan pendatang baru lainnya.

Press conference ini dimulai dengan panitia PCCA nya terlebih dahulu, yang gue pun kurang memperhatikan siapa saja namanya. Dilanjut dengan para pembalap yang sepertinya sudah lama berpartisipasi dalam PCCA ini. Dimulai dari kanan ada dua pembalap asal Cina yaitu Bao Jin Long dan Li Chao. Paling kiri adalah Chris Van Der Drift asal New Zealand. Beliau sudah memenangkan kejuaraan ini dua kali. Yaitu, pada tahun 2015 dan 2017, kelihatannya hebat juga ya.

Akhirnya momen yang membuat Fadil nervous semalaman, datang juga!

Inilah para pembalap yang termasuk dalam Talent Pool, yang berumur dibawah 26 tahun. Dari sebelah kiri ada Phillip Hamprecht asal Jerman, Will Bamber asal New Zealand, Tanart Sathienthirakul asal Thailand dan yang terakhir adalah kawan kita Fadil. Meskipun dia bilang, dia tegang, khawatir dan lain – lain, tetapi menurut gue, Fadil terlihat enjoy saja didepan sana, tidak ada tegang – tegangnya sama sekali.

Fadil pun langsung mendapat giliran pertama untuk menjawab pertanyaan dari MC. Dia menjawab pertanyaan yang diberikan dengan jelas dan tenang. Tidak terlihat seperti orang yang bingung ataupun tidak paham. Kalau terlihat rada kurang baik menjawabnya, yah namanya juga pertama kali. Salah – salah dikit harap dimaklumi hahaha.

Setelah sesi tanya jawab selesai, pastinya ada sesi foto bersama. Sesi foto bersama pun selsesai, Fadil langsung dihampiri seorang pria yang bernama Sascha Maassen. Siapakah beliau? Bagi yang belum tahu, beliau adalah pembalap profesional asal Jerman, yang berperan sebagai salah satu pelatih bagi peserta PCCA.

Setelah itu, ada sesi briefing untuk para pembalap. Disini gue nggak teralu memperhatikan apa yang dibahas, kemungkinan sih penjelasan teknis untuk Official Test Day ini.

Briefing pun selesai, saatnya untuk bersiap – siap melakukan test pada mobil untuk pertama kalinya. Di saat itu pun, gue sangat penasaran dan excited untuk melihat Porsche milik Fadil akan dijalankan untuk pertama kalinya.


Tapi sebelum kita mulai membahas tentang mobil, gue akan membahas tentang race engineer  yang sudah gue tunda sebelumnya. Ya jadi, bapak yang ada di foto diatas adalah sang race engineer  yang dimaksud oleh Paul sebelumnya. Gue juga kurang tahu nama lengkap nya siapa, namun beliau lebih akrab disapa dengan nama “Todd”. Race engineer ini memiliki peran dalam tim, sebagai orang yang berkomunikasi dengan data analyst serta mekanik yang bekerja dalam tim ini, untuk melakukan perubahan yang dilakukan terhadap mobil. Beliau akan menggunakan data – data yang tersedia untuk menentukan setting mobil yang terbaik dan tidak luput dari regulasi untuk persiapan race day. Intinya, beliau berperan untuk memastikan test day ini berjalan semulus mungkin bagi mobil dan pembalapnya. Dan beliau memiliki sebuah tujuan penting, yaitu untuk mendapatkan performa terbaik bagi mobil dan pembalapnya selama berjalan di sirkuit. Kelihatannya tugas yang cukup sulit bukan?

Karena Fadil ternyata masih perlu setting posisi menyetir, maka gue melakukan detail shot pada mobil ini. Akan gue coba jelaskan sedikit tentang spesifikasi mobil ini. Porsche GT3 Cup ini ditenagai oleh Aluminium Flat-6 Engine dengan kapasitas 3.8L yang bisa menghasilkan 460 horsepower pada 7500r/min, disalurkan oleh six-speed dog-type gearbox dengan mechanical limited slip differential. Lalu, perpindahan gear bisa dilakukan oleh paddle shift yang terdapat di steering wheel. Basically, GT3 Cup ini adalah mobil yang terlahir sebagai mobil balap. Namun bila ditelusuri dari sejarahnya, Sejatinya mobil balap Porsche itu, bukanlah mobil yang terlahir sebagai mobil balap, melainkan mobil yang legal untuk di jalan raya, yang dirubah menjadi mobil balap. Karena ini one make race, maka peserta lain juga menggunakan mobil yang sama, dengan spesifikasi yang sama. Menurut gue, di satu sisi ini lebih fun untuk ditonton karena persaingannya akan lebih terlihat. Namun di sisi lain, akan menjadi tantangan berat bagi pembalapnya, karena lawannya menggunakan mobil yang sama persis. Disinilah dimana para pembalap akan bertanding dengan murni keahlian dalam menyetir mobil.

Bisa kalian lihat pada steering wheel, ditempelkan peta dari sirkuit shanghai ini, mungkin agar lebih mudah untuk mengenal tikungan – tikungan yang akan dilalui oleh Fadil.

Sebuah hal yang mungkin cukup sepele bagi kalian, namun menarik buat gue, dan sangat penting bagi keselamatan. Yaitu, mekanik harus menggunakan racing suit seperti pembalap. Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, bahwa mekanik yang bekerja disini adalah orang Malaysia. Gue bertemu dengan abam (panggilan “abang” versi Malaysia) Ibrahim pagi ini, sudah menggunakan racing suit. Lantas gue bertanya, karena gue baru pertama kali melihat hal seperti ini. “Abam, kenape abam gunakan racing suit?”, dia membalas “gunakan racing suit only for refueling saje”. Pada akhirnya ya gua bisa melihat abam Ibrahim ini melakukan refueling seperti pada foto diatas. Penting bagi keselamatan, karena dia akan melakukan hal yang besar sekali kemungkinan terjadinya kebakaran.

Sementara itu, karena mobil masih dalam persiapan, maka Todd mengajak Fadil untuk duduk sebentar, dan memberikan sedikit instruksi mengenai bagaimana caranya menyetir di sirkuit Shanghai ini.

Kita juga bisa lihat, aktivitas pada pit sudah mulai terlihat sibuk, karena test sesi pertama telah dimulai.

Persiapan mobil sudah selesai, sudah saatnya Fadil untuk mencoba menjalankan mobil ini di sirkuit. Om rachmat disini menggunakan headphone dan mic, agar bisa tetap berkomunikasi dengan Fadil, selama menjalankan mobil di sirkuit.

Kita juga bisa lihat, Todd sedang mengatur kamera yang diperlukan untuk merekam video onboard Fadil untuk dijadikan bahan review dan koreksi. Lalu, Todd juga memberikan sedikit instruksi sebelum Fadil menjalankan mobil ini.

Voila! Akhirnya mobil ini dijalankan! Betapa bahagia nya gue disaat itu, bisa memiliki kesempatan untuk menyaksikan mobil balap ini dengan mata dan kepala sendiri, secara langsung.

Gue sangat ingat bahwa, beberapa orang berkata pada Fadil. “Pelan – pelan saja untuk beberapa putaran pertama, kenali dulu mobilmu, setelah terbiasa baru boleh ngebut” . Gue juga ngga ngerti ini hanya perasaan gue saja, atau kenyataannya memang begitu. Fadil langsung ngegas mobil ini cukup kencang, tidak seperti yang gue bayangkan. Menurut gue di spot ini, cukup susah untuk mendapatkan shot yang tajam.

Lucunya, gua malah ngerasa lebih mudah untuk motret mobil yang lain.

Setelah menyelesaikan beberapa putaran, Fadil kembali ke pit. Fitur yang cukup menarik dari mobil ini adalah, Air Jack. Ngga perlu tuh yang namanya geret – geret dongkrak kesana kemari. Mobil ini sudah bisa mendongkrak sendiri, hanya dengan ditiupkan oleh tekanan angin saja. Mungkin kalau kalian perhatikan pada foto diatas, ada 2 semacam tiang yang menyangga mobil tersebut. Mobil akan kembali turun dan menyentuh tanah apabila membuang angin yang ditiupkan sebelumnya. Sepertinya ini sudah menjadi perlengkapan yang umum bagi mobil balap yang proper. Cuman guenya aja yang norak karena baru pertama kali lihat hahaha.

\

Setelah melakukan sedikit perubahan dan mengganti ban, Fadil kembali masuk ke dalam sirkuit.

Fadil masih berusaha mengenal mobil nya, juga sirkuitnya. Gue sempat mendengar om Rachmat berkata bahwa Fadil mengalami oversteer, di titik yang gue pun juga kurang tau dimana hahaha. Jujur, disaat itu gue masih takut banget yang namanya ditegur panitia, ditambah lagi gue buta banget sama sirkuit ini. Bahkan gue sama sekali tidak bisa menemukan akses ke jalur evakuasi, agar gue bisa explore sirkuit ini lebih jauh. Sampai akhirnya, Fadil menyampaikan sebuah requestGue pengen foto yang keliatan Pooh nya nih, tolong ya.” karena ini pun gue akhirnya mencoba mencari tempat yang cukup tinggi, agar bisa mendapatkan angle dari atas mobil. Akhirnya gue sok tahu aja naik – naik ke rooftop dari bangunan pit ini, yang ternyata akses kesitu tidak dikunci sama sekali.

Voila! Jadilah foto yang dimaksud oleh Fadil, foto mobil yang keliatan sticker Winnie the Pooh kesayangannya. Akhirnya gue merasa berhasil mendapatkan angle foto yang berbeda. Betapa bahagia dan lega gue disaat itu. Tetapi kebahagiaan gue hanya bertahan sesaat saja, karena mobil Fadil nampaknya mengalami masalah, sehingga harus kembali masuk ke dalam bangunan pit, untuk diperbaiki.

Tapi tidak apa – apa, sepertinya Fadil juga butuh istirahat. Selama mobilnya diperbaiki, Fadil menggunakan waktunya untuk bersantai – santai, sambil menonton mobil – mobil yang lewat melalui pitwall. Karena Fadil masih menunggu, gue pun mengisi waktu gue dengan mencoba motret mobil – mobil yang lain.

My personal favorite, Porsche yang dikendarai oleh Phillip Hamprecht. Livery nya sederhana saja sih, tidak ada corak – corak, hanya logo sponsor saja. Tapi gue suka aja gitu sama warna orange nya. Sangat eye catching buat gue.

Salah satu pembalap yang berkesan, bukan karena livery mobilnya atau cara menyetirnya. Entah kenapa, Gue dan Fadil sering sekali berpapasan dengan pria yang bernama Cui Yue ini. Tapi menurut gue livery nya cukup menarik dibanding mobil – mobil yang lain.

Tidak disangka juga, perbaikan mobil ini memakan waktu yang cukup banyak. Mobil ini selesai diperbaiki dan Fadil bisa kembali masuk kedalam sirkuit, Namun sisa waktu untuk sesi test ini, hanya beberapa menit lagi sebelum habis.

Gue pun memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin, untuk mendapatkan foto mobil ini dari rooftop bangunan pit. Karena gue masih belum mendapatkan shot dari atas mobil yang sedang melaju di dalam sirkuit. Sesi untuk hari ini pun akhirnya selesai, foto gue hari ini angle nya kurang bervariasi. Karena gue masih belum mengenal sirkuit ini sama sekali. Beda dengan Sentul, yang gue sudah paham seluk beluknya.

Look what i found! Shanghai International Circuit ini, posisi nya dekat sekali dengan Shanghai Hongqiao International Airport. Maka dari itu, banyak sekali pesawat yang berlalu – lalang dengan altitude rendah, di daerah sirkuit Shanghai ini.

Well, setelah gue mencoba untuk explore rooftop ini, ternyata gue bisa melihat ke banyak tempat, seperti yang kalian bisa lihat, gue menemukan banyak angle foto yang baru dan belum pernah gue dapatkan sebelumnya. Gue sangat bersyukur karena telah memberanikan diri untuk naik ke rooftop tersebut. Disini gue mulai merasa bahwa, gue akan bisa menghasilkan foto – foto yang sesuai dengan ekspektasi gue sebelum datang ke Shanghai.

Waktu sesi terakhir tinggal sedikit lagi, Fadil masih berusaha untuk push performa mobilnya di detik – detik terakhir ini. Sepertinya Fadil sudah mulai terbiasa dengan mobil dan sirkuit Shanghai ini.

Salah satu saran gue, selalu sediakan lensa tele dengan focal length minimal 400mm. FYI foto diatas gue foto dengan Canon EOS 7D yang merupakan APS-C (Crop Sensor 1.6x) dikombinasikan dengan lensa 100-400mm. Dan foto diatas ini diambil pada focal length 400mm. Masih terlihat cukup jauh bukan? hahaha. Gue mendapati banyak sekali tempat – tempat yang hanya bisa dijangkau oleh lensa tele diatas 400mm. Ini gue shot mengunakan kamera APS-C lho, bayangkan apabila menggunakan kamera Full Frame. Menurut gue itu akan terasa sangat kurang. Kecuali kalian orangnya hobi cropping gila – gilaan.

Sampai akhirnya gue sampai di rooftop bagian paling ujung, yang lebih dekat dengan tikungan 1,2,3 dan 4. Gue berhasil mendapatkan sebuah foto yang membuat gue cukup puas di hari itu. Jaraknya cukup jauh dari spot pertama gue, yang merupakan tepat berada diatas pit Fadil. Setelah mendapatkan foto ini, gue bermaksud untuk menunggu Fadil lewat, untuk mendapatkan foto yang persis seperti ini, untuk mobil Fadil. Namun sayang sekali, setelah gue mengetahui spot ini, Fadil sudah kembali masuk ke pit dan tidak akan keluar lagi.

 

Karena Fadil tidak akan masuk ke sirkut lagi, maka gue pun kembali ke pit. Terlihat mobil ini yang tadinya mulus sekali, sudah berubah menjadi lecet – lecet, dan ban nya juga terlihat sudah mulai aus. Setelah sesi latihan di sirkuit, sekarang saatnya untuk sesi latihan start.

Namun Fadil memutuskan untuk tidak mengikuti latihan start ini, karena dia bilang “sayang koplingnya”. Mobil ini sudah dilengkapi dengan launch control yang aktif apabila pengemudi menginjak kopling. Kalian yang mengikuti Instagram stories gue dari awal sampai akhir, pasti pernah melihat latihan start dengan launch control tersebut. Hasil latihan hari ini cukup memuaskan. Fadil berhasil mencetak waktu 2.14.xxx. Sebenarnya masih sangat jauh dari yang tercepat, karena yang tercepat semuanya mencetak waktu dibawah 2 menit 10 detik. Tapi tidak apalah, karena ini kali pertama fadil menyetir GT3 cup ini, dan pertama kali menyetir di Shanghai International Circuit. Oke, gue sudahi dulu tulisan part.2 ini, sampai bertemu di part.3! Ciao!

 

Words & Photos by Fauzan Pasha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this Post

Leave Your Comment