Didn’t see that coming

Ya, tidak pernah terpikirkan sebelumnya, untuk bisa pergi untuk foto mobil balap di sirkuit luar Indonesia. Meskipun gue sih sering berkhayal bisa menjadi fotografer balap sekelas fotografer F1, yang keliling dunia setiap tahunnya. Gua tidak menyangka bahwa kesempatan itu bisa datang di tahun ini. Walaupun kali ini hanya sebatas test day saja sih hehehehe. Tapi ini adalah sebuah achievement baru buat gue.

Hari gue diawali dengan, MACET! Emang deh ya, kalo akses ke airport itu sering banget macet. Namun, sudah menjadi kebiasaan gue untuk berangkat jauh lebih awal dari jam keberangkatan flight gue. Karena, gue lebih suka dateng kepagian daripada mepet – mepet. Kalo kepagian kan jadinya gue bisa nyantai – nyantai dulu di airport. Macet parah ini menyebabkan gue nyampe di Soekarno-Hatta, sudah mulai dekat dengan jam keberangkatan.

Sesampainya di airport, gue langsung bergegas menuju check-in counter untuk melakukan baggage drop. Karena Fadil dan om Rachmat sudah check-in duluan, gue jadi cukup terburu – buru dan tidak sempat foto – foto sebelum foto yang diatas ini. Oke, akan gue jelaskan terlebih dahulu, kenapa gue bisa ada disini. Jadi, klien setia kita pada event ISSOM, yaitu Ahmad Fadillah Alam, yang biasa dipanggil Fadil, akan mengikuti event balap diluar Indonesia yang bernama “Porsche Carrera Cup Asia”, bisa disingkat menjadi PCCA. PCCA ini adalah balap one make race oleh brand mobil Porsche. Mobil yang digunakan adalah Porsche 911 GT3 Cup. Karena ini one make race, semua pembalap yang berpartisipasi, menggunakan mobil yang sama persis. Kami berangkat bertiga, gue, Fadil dan om Rachmat yang berperan sebagai Manager untuk Fadil selama mengikuti PCCA.

Seperti yang sudah gue sebutkan sebelumnya, kali ini kita berangkat bukan untuk balap, namun hanya sekedar mencoba mobil yang akan digunakan oleh Fadil selama setahun ini. Official test day dari PCCA ini bertempat di Shanghai International Circuit, di Republik Rakyat Cina. Lucunya, gue kira hanya gue doang yang belum pernah menginjakan kaki di Shanghai, ternyata Fadil dan om Rachmat pun belum pernah sekalipun. Jadi kasarnya kita bertiga sama – sama masih bego soal kondisi di Shanghai.

Karena waktu boarding nya masih lama, dan ruang tunggu juga belum dibuka, kami memutuskan untuk bersantai sambil minum kopi terlebih dahulu.

Beberapa menit kemudian, ruang tunggu pun dibuka, kami pun segera menuju ruang tunggu, agar tidak buru – buru disaat sudah waktunya boarding.

Akhirnya waktu boarding pun tiba, kami pun tidak berlama – lama menunggu, dan langsung boarding ke pesawat. Sepertinya Fadil ingin memanfaatkan flight ini untuk tidur, sehingga kita tidak berlama – lama diluar, agar bisa cepat duduk dan tidur.

Sayonara Jakarta! Flight ini take-off sesuai dengan jadwalnya. Perjalanan kami akan singgah di Singapore terlebih dahulu untuk pindah pesawat, dan baru melanjutkan perjalanan ke Shanghai. Perjalanan Jakarta ke Singapore ini ditempuh kurang lebih satu jam. Satu jam waktu yang lumayan untuk tidur bukan? apa kurang ya? hehehe.

Window seat selalu menjadi seat favorit gue selama berpergian dengan pesawat. Mengapa begitu? karena gue lebih suka melihat pemandangan keluar, ketimbang duduk ditengah atau di bagian aisle. Sejak kecil gue sangat mengagumi pemandangan langit yang biru beserta awan – awan yang menghiasinya. Kadang orang bilang “ah awan ama langit doang, ga ada yang bisa dilihat.” namun statement itu tidak berlaku sama sekali buat gue. Ditambah lagi, flight ini diterbangkan oleh produk buatan Airbus yang terbaru yaitu, Airbus A350-900. Membuat gue jadi semakin excited untuk duduk di window seat. Kalian bisa lihat lekukan diujung sayap, yang disebut winglet. Bentuk winglet dari A350 ini sangat estetik menurut gue.

Satu jam berlalu, pesawat kami mendarat di Singapore dengan selamat dan tepat waktu. Kami punya waktu sekitar 3 jam sampai keberangkatan pesawat untuk ke Shanghai.

Ternyata Fadil benar – benar memanfaatkan waktu flight tadi untuk tidur. Memang seharusnya begitu sih, karena perjalanan kali ini akan menguras banyak tenaga, dan kurangnya waktu untuk tidur.

Pesawat kita sebelumnya parkir di Terminal 2, sedangkan pesawat untuk ke Shanghai akan berangkat dari Terminal 3. Maka dari itu, kita harus pindah dari Terminal 2 ke 3 dengan menggunakan Skytrain. Skytrain merupakan fasilitas kereta antar terminal yang disediakan oleh Singapore Changi airport.

Terminal 2 terbilang sangat kuno, apabila dibandingkan dengan terminal 3. Terminal 3 Changi menurut gue, arsitektur nya terbilang modern, karena terminal 2 sudah dibangun jauh sebelum terminal 3 ini. Waktu 3 jam kita habiskan dengan berkeliling di terminal yang cantik ini. Sampai kami menyadari, bahwa gate yang digunakan untuk boarding, sangatlah jauh dari tempat kami berkeliaran. Pesawat kami ditempatkan di gate B10, yang dituliskan memakan waktu sekitar 17 menit berjalan kaki, dari tempat yang gue foto diatas.

Tetapi dengan adanya fasilitas travelator ini, jarak jauh pun menjadi tidak terasa sama sekali.

Akhirnya kita sampai di gate B10! Ternyata antrian untuk masuk ke ruang tunggu masih cukup panjang di saat itu. Kami memutuskan untuk menunggu antrian menjadi lebih sepi dan melakukan hal yang lain terlebih dahulu.

Taa-daa! Inilah pesawat kita untuk flight ke Shanghai. Karena sebelumnya kami menunggu diluar ruang tunggu karena antrian yang panjang, kami bisa langsung boarding setelah melewati pemeriksaan di pintu masuk ruang tunggu.

Pesawat kami pun berangkat sesuai dengan yang dijadwalkan. Seperti biasa, gue pasti memilih untuk duduk di window seat, tidak peduli untuk harus ribet melangkahi penumpang sebelah gue, apabila hendak ke toilet.

Hal – hal seperti ini lah yang membuat gue menjadi pelanggan setia window seat. Karena kami berangkat di sore hari, maka gue bisa menikmati pemandangan sunset yang indah ini. Perjalanan dari Singapore ke Shanghai, ditempuh dengan waktu kurang lebih 4jam. Waktu yang cukup lama, gue memutuskan menggunakan waktu ini untuk tidur, setelah matahari sudah terbenam.

Gue tertidur kurang lebih selama 2,5 jam. Disaat gue terbangun, pesawat sudah berada diatas wilayah Cina. Gue memutuskan untuk mendengarkan lagu saja, dan mengambil beberapa foto seperti dua foto diatas ini. Namun tidak terlalu banyak, karena jujur saja gua cukup lelah dengan perjalanan ini. Kurang lebih satu jam kemudian, pesawat kami mendarat di Shanghai Pu Dong Internatonal Airport.

Touchdown! Sampailah kami bertiga di Shanghai. Petualangan kami dimulai dari sini. Setelah landing, disembark, mengurus imigrasi, baggage claim, kami mencari transportasi untuk ke hotel. Ternyata hotel kami menginap menyediakan transport dari airport ke hotel, menggunakan Mercedes Benz V class, beserta supir yang tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Masalah terbesar pada perjalanan ini menurut gue adalah, kendala dalam berbahasa. Gue kira, Shanghai adalah kota yang paling mending dari kota Cina lainnya, dalam artian berbahasa. Gue pikir di Shanghai ini, penduduknya masih bisa berbahasa Inggris. Jangankan berbicara dalam bahasa Inggris, mereka mengerti bahasa Inggris pun tidak sama sekali.

Menempuh jarak kurang lebih 45 kilometer, dengan kondisi jalanan kosong, gue pikir akan bisa lebih cepat sampai. Ternyata tidak, gue gatau apakah sudah menjadi peraturan untuk si supir untuk tidak melaju lebih dari 90 kilometer per jam. Gue perhatiin, mobil yang kita tumpangi itu melaju di 80-90 kilometer per jam, mau nanya ke supirnya juga percuma kan, dia nggak ngerti juga. Tapi ya sudahlah, kita pun tidak berani mengambil resiko untuk naik taksi, yang dimana kita harus berkomunikasi dengan supir untuk memberi tahu letak hotel tujuan kami. Yang terpenting, kami sampai di hotel dengan selamat dan bisa istirahat untuk malam itu.

Memasuki hari ke dua dalam perjalanan ini, gue pikir hari ini tidak ada kegiatan, karena test day dari PCCA dijadwakan baru dimulai besok. Ternyata, pada hari Kamis ini, ada jadwal untuk melakukan Track walk, semacam untuk survei kondisi sirkuit. Berhubung ini kali pertama Fadil akan menyetir di sirkuit Shanghai, sepertinya survei itu sangatlah diperlukan. Kami memutuskan untuk pergi ke sirkuit hari ini.

Sebelum mencari tahu bagaimana caranya kami bisa ke sirkuit, kami sarapan terlebih dahulu. Shuttle dari hotel ke sirkuit baru tersedia di esok hari, sehingga kami harus mencari cara lain untuk bisa pergi ke sirkuit. Awalnya kami menanyakan soal sewa mobil ke petugas hotel. Ternyata, sim internasional Indonesia tidak berlaku untuk negara ini, yang berarti, bila ingin menyewa mobil, harus beserta supir nya juga. Setelah dihitung – hitung, harga sewa mobil itu menjadi mahal sekali. Tidak ada pilihan lain, kami pun minta dicarikan taksi oleh petugas hotel.

Disini lah gue mulai merasa, kondisi kami sekarang semakin sesuai dengan judul blog ini, yaitu “Lost in Translation”. Kenapa? Bapak supir yang ada di foto diatas ini, SAMA SEKALI TIDAK PAHAM BAHASA INGGRIS! Bahkan kata – kata bahasa Inggris yang mendasar pun, dia tidak paham juga. Mayoritas penduduk Shanghai, sepertinya tidak tahu, apa itu “Shanghai International Circuit“. Seperti sang petugas hotel, mereka baru mengerti apabila kita bilang “We want to go to F1″, baru deh mereka “Ooooh, F1. Okay okay!”. Kita bisa berada di taksi bapak ini, berkat bantuan petugas hotel yang berkomunikasi dengan bahasa Cina. Setelah meninggalkan hotel, bapak ini ngomong bahasa Cina ke gue, sambil nunjuk ke handphone gue.

Karena dia nunjuk ke handphone, gue sotoy aja buka aplikasi Google Maps, setelah dia melihat maps di handphone gue, ekspresi dia langsung sumeringah dan mengucapkan “Xie xie, xie xie” yang berarti terima kasih. Oh jadi ternyata maksudnya, dia tuh ngga tau jalan ke sirkuit Shanghai, ya ampun. FYI, kalau kalian menggunakan network provider Cina, kalian tidak akan bisa mengakses aplikasi apapun yang berkaitan dengan Google, Facebook dan sebagainya. Contoh, dengan menggunakan WiFi yang disediakan hotel, gue gabisa mengakses YoutubeGoogle Maps, bahkan gue tidak bisa mengakses Gmail gue. Merupakan keputusan yang tepat buat gue, membeli paket roaming dari provider Indonesia, makanya gue masih bisa mengakses Google Maps.

Bagaimana menurut kalian? Semakin sesuai dengan judul blog ini bukan? hahaha.

Gue sangat senang bisa keluar hotel di pagi hari. Gue paling suka melihat pergerakan manusia, apalagi di tempat yang jauh dari rumah. Pemandangan seperti ini cukup menghibur gue lah, biar nggak kusut – kusut amat.

Ditambah lagi, bapak supir berinisiatif untuk menelpon entah temannya atau kenalannya. Dari bahasa nya dia yang gue nggak paham juga, gue mendengar ada kata – kata “F yī, F yī“. Yī adalah angka satu dalam bahasa Cina, jadi gue bisa menyimpulkan bahwa, dia sedang menanyakan jalan untuk ke sirkuit, pada orang yang berada dibalik telpon tersebut. Setelah itu, gue semakin yakin bahwa kami berada di jalan yang benar.

Gue selalu membayangkan bahwa, kota – kota diluar Jakarta, especially luar negri, adalah kota yang bebas dari macet. Ternyata itu semua hanya sebatas khayalan gue. Bahkan katanya di Beijing itu lebih parah dibandingkan Shanghai. Untungnya gue udah cukup terbiasa dengan kemacetan di Jakarta. Biarpun gue merasa tidak senang, karena macet ini terjadi di highway yang seharusnya itu lancar.

Well, biarpun macet, gue bisa cuci mata sedikit dengan melihat BMW 5series baru ini. BMW 5series dengan kode chassis G30, jadi lebih baru lagi daripada F10. Ditambah lagi, 5series ini adalah versi yang long wheelbase. Ya cukup menghibur dalam kemacetan lah ya hahaha.

Fadil pun memanfaatkan kemacetan ini untuk? ya tidur lagi hahaha.

Sejujurnya gue pun pengennya tidur aja sepanjang jalan, hanya saja gue kurang tenang. Gue takut kalo gue tertidur, si bapak supir malah melenceng jauh dari rute yang seharusnya.

Akhirnya kami pun berhasil melewati kemacetan tersebut dan keluar dari highway. Mungkin karena ini daerah dipinggir kota, bukan daerah pusat, di bagian sini tidak ada kemacetan sama sekali. Disini pun mulai banyak terlihat orang – orang yang menaiki sepeda – sepeda motor atau listrik yang kecil.

Tempratur udara disaat itu masih terbilang rendah, sehingga pagi itu sangatlah dingin. Kalian bisa lihat sendiri di foto diatas, orang itu mengemudikan sepeda motor menggunakan mantel untuk melindungi tangannya agar tetap hangat. Ternyata hal yang gue takutkan datang dengan cara yang berbeda. Kami berada di rute yang benar, tetapi kami sama sekali tidak tahu akses masuk ke sirkuit Shanghai ini. Bahkan kami pun tidak diperbolehkan masuk oleh petugas keamanan di gerbang depan. Kami sudah mencoba bilang bahwa kami adalah peserta dari PCCA, tetap saja, maksud perkataan kami sepertinya tidak bisa dipahami oleh petugas tersebut, dan kami terpaksa menunggu di depan gerbang.

Kami pun menelpon panitia PCCA, memberi tahu bahwa kami mengalami masalah dalam memasuki sirkuit ini. Mereka pun  langsung menjemput kami ke depan gerbang. Jadi ternyata maksud dari petugas keamanan di depan itu, hanya mobil taksi nya saja yang tidak boleh masuk. Tapi ya karena terkendala bahasa, penjelasan dari petugas keamanan tersebut pun tidak bisa kami pahami. Dengan dijemputnya kami oleh panitia, maka permasalahan kami untuk masuk ke dalam sirkuit akhirnya selesai.

Finally! Setelah kami tersesat karena kendala bahasa, kami bisa menginjakan kaki di Shanghai International Circuit. Ini merupakan kali pertama gue bisa datang ke sirkuit selain Sentul. Rasanya seperti mimpi, gue masih nggak percaya gue bisa berada di sirkuit yang dipakai balap F1.

Inilah mobil yang akan digunakan oleh Fadil selama setahun ini, Porsche 911 GT3 Cup. Gue sangat excited, sama seperti gue pertama kali melihat RWB dengan mata gue sendiri. Akhirnya gue bisa melihat proper racecar buatan Porsche sendiri.

 

Seperti yang gue sebutkan sebelumnya, pada hari itu tidak ada jadwal untuk menjalankan mobil sama sekali. Jadwal di hari itu hanya scrutineering dan track walk saja. Bagi yang belum tahu scrutineering itu apa, scrutineering adalah sebuah proses pemeriksaan yang dilakukan secara detail, baik dilakukan sebelum dan/atau sesudah balapan. Hal ini merupakan esuatu  hal yang wajib atau wajar yang dilakukan didalam setiap balapan profesional agar kendaraan yang dipakai pembalap sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Jadi disaat itu, mobil ini sedang dipersiapkan sebaik mungkin, agar lolos dari proses scrutineering.

Ternyata, di hari itu Fadil memang diperlukan untuk datang kesitu, untuk fitting seat pada mobilnya.

Fitting seat itu penting, kenapa? ya masa iya lo mau nyetir mobil, tapi posisi duduknya ngga cocok untuk lo sebagai driver. Apalagi ini balap, bukan menyetir seperti pada umumnya.

Karena waktu sudah menujukan pukul 12.00, itu berarti kita sudah diperbolehkan untuk melakukan track walk. Gue gatau bagaimana menggambarkan kesenangan gue di saat itu. Kapan lagi coba, bisa masuk ke dalam sirkut diluar Indonesia dan sebebas itu.

Oh jadi begini rasanya menginjakan kaki di sirkuit F1 hahaha. Asli, se-norak itu sih gue, ditambah lagi ini sirkuit gede dan aspalnya bagus banget.

Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto – foto di dalam track ini.

Bisa kalian lihat, bahwa yang melakukan track walk bukan hanya kami saja. Menurut gue, orang lain jauh lebih niat sih melakukan track walk ini. Yang gue perhatiin, mereka itu membawa kertas dan alat tulis, jadi mereka jalan di track sambil mencatat – catat. Gue pun kurang paham apa yang mereka catat. Sedangkan Fadil tidak melakukan hal – hal yang agak ribet seperti itu.

Setelah dihitung – hitung, sepertinya waktu kami tidak akan cukup untuk jalan keliling satu putaran. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pitlane tanpa menyelesaikan satu putaran.

Sesampainya kita di pit, sepertinya persiapan mobil sudah siap untuk melakukan scrutineering.

Ya, kalian tidak salah lihat, ini adalah karakter dari serial kartun Winnie the Pooh. Gue sempet dapet comment di Instagram, ada yang nanya begini “kok ada Winnie the Pooh sih?“. Kenapa Winnie the Pooh? Karena livery ini di desain sesuai dengan keinginan Fadil sendiri. Winnie the Pooh adalah karakter kartun kesukaan Fadil. Fadil sempat dikomplain oleh Porsche China karena stiker Pooh ini, karena disaat itu sedang gencar jokes yang sensitif tentang presiden Cina yang disama – samakan dengan Winnie the Pooh. Namun keputusan terakhir membawa kabar baik, yaitu panitia PCCA menyatakan tidak ada masalah dengan stiker Pooh ini.

Mobil sudah siap, para mekanik mendorong mobil ini, dipindahkan ke pit yang disediakan panitia untuk melakukan proses scrutineering.

Proses scrutineering pun berlangsung, sepertinya semua sesuai yang diharapkan, tidak ada masalah atau kekurangan. Terima kasih untuk para mekanik yang terbaik, berkat mereka proses ini berjalan sesuai yang diharapkan.

Scrutineering pun selesai, para mekanik kembali mendorong mobil untuk dipindahkan kembali ke pit asalnya. Kudos to all of you mechanics! Mereka semua bekerja dengan sangat profesional, tidak ada yang mengeluh sama sekali. Para mekanik ini rata – rata asalnya dari Malaysia, ada juga yang dari Filipina. Mereka pun seru – seru saja untuk diajak ngobrol. Hampir seluruh kepentingan kami disini selesai, hanya tinggal menunggu waktu untuk track walk sesi kedua di sore hari. Sambil menunggu, kami menonton mobil – mobil yang sedang melakukan Trackday.

Pesertanya? tentu saja Porsche. Berbagai macam Porsche berkumpul disini, 911 Carrera S, Carrera 4S, GT3, GT3RS dan sebagainya.

Selain cuci mata dan refreshing, gue sekalian menggunakan momen ini untuk pemanasan, sebelum gue mulai serius foto di esok hari sampai hari terakhir.

FYI, yang menyetir Carrera turbo berwarna kuning ini, ibu – ibu gitu lho hahaha. Menurut gue si ibu ini terbilang cukup berani dalam ngegas mobilnya.

Gue sama sekali tidak melihat anak muda pada peserta Trackday ini. Pesertanya itu ya bapak – bapak dan ibu – ibu saja. Sepertinya, pada wajarnya bukan anak muda yang bisa memiliki mobil – mobil Porsche ini.

Jam telah menunjukan waktu yang dijanjikan untuk track walk sesi ke dua. Namun, trackday ini masih terus berlanjut sampai di waktu tersebut. Kami tetap menunggu, karena kami pikir hanya tertunda sebentar saja. Kenyataannya, setelah kami sudah menunggu cukup lama, trackday ini tidak kunjung selesai. Karena kami merasa bahwa track walk sesi kedua ini dibatalkan, akhirnya kami menyudahi urusan kami di sirkuit pada hari itu, berpamitan kepada orang – orang di sekitar, dan mencari taksi untuk pulang ke hotel. Sampai disini tulisan gue untuk part pertama. Sampai jumpa dengan tulisan gue di part kedua, ciao!

 

Words and Photos by Fauzan Pasha.

 

Share this Post

Leave Your Comment